Manajemen Pembelajaran

Maret 17, 2009 hennyazrimp07

BIMBINGAN PROFESIONAL GURU DAN MOTIVASI MENGAJAR GURU TERHADAP MANAJEMEN PEMBELARAN

Pendahuluan
Abad 21 merupakan abad global. Masa ini ditandai dengan kehidupan bermasyarakat yang berubah cepat karena dunia semakin menyatu. Apalagi ditopang kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sehingga batas-batas masyarakat dan negara menjadi kabur. Demikian pula pada sekotor ekonomi, dunia berkembang dengan pesat yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan.
Ekonomi yang berdasarkan ilmu pengetahuan merupakan lokomotif dari perubahan dunia abd 21. Selanjutnya sektor ekonomi yang berdasarkan ilmu pengetahuan (knowledge based economy) menuntut penguasaan ilmu pengetahuan dari para pelaku ekonomi profesional. Di dalam masyarakat sederhana, berbagai pekerjaan dilakukan secara rutin. Masyarakat konsumen menuntut kualitas produksi yang tinggi dan terus menerus diperbaiki.
Oleh sebab itu profesionalisme merupakan syarat mutlak dalam kehidupan global. Apalagi pada dunia global lebih diutamakan pada penguasaan kemampuan dan keterampilan serta penuh persaingan. Globalisasi mengubah hakikat kerja dari amatirisme menuju kepada profesionalisme.
Memang inilah dasar dari suatu masyarakat berdasarkan merit system. Legitimasi dari suatu pekerjaan atau jabatan di dalam masyarakat abad 21 tidak lagi didasarkan kepada amatirisme atau keterampilan yang diturunkan atau dengan dasar-dasar yang lain, tetapi berdasarkan kepada kemampuan seseorang yang diperoleh secara sadar dan terarah dalam menguasai berbagai jenis ilmu pengetahuan dan keterampilan.
Tuntutan profesionalisme akibat dari perubahan global sesuai dengan tuntutan perubahan masyarakat, profesi guru juga menuntut profesionalisme. Guru yang profesional bukan hanya sekedar alat untuk transmisi kebudayaan, tetapi mentransfomasikan kebudayaan itu ke arah budaya yang dinamis yang menuntut penguasaan ilmu pengetahuan, produktivitas yang tinggi, dan kualitas karya yang dapat bersaing.

Bimbingan Profesional Guru
Wacana tentang profesionalisme guru kini menjadi sesuatu yang mengemuka ke ruang publik seiring dengan tuntutan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Menurut Oktovianus Sahulata dalam makalahnya dikatakan: mutu pendidikan Indonesia dianggap masih rendah karena beberapa indikator antara lain: Pertama, lulusan dari sekolah dan perguruan tinggi yang belum siap memasuki dunia kerja karena minimnya kompetensi yang dimiliki. Bekal kecakapan yang diperoleh di lembaga pendidikan belum memadai untuk digunakan secara mandiri, karena yang terjadi di lembaga pendidikan hanya transfer of knowledge semata yang mengakibatkan anak didik tidak inovatif, kreatif bahkan tidak pandai dalam menyiasati persoalan-persoalan di seputar lingkungannya. Kedua, Peringkat indeks pengembangan manusia (Human Development Index) masih sangat rendah. Menurut data tahun 2004, dari 117 negara yang disurvei Indonesia berada pada peringkat 111 dan pada tahun 2005 peringkat 110 dibawah Vietnam yang berada di peringkat 108. Ketiga, Mutu akademik di bidang IPA, Matematika dan Kemampuan Membaca sesuai hasil penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2003 menunjukan bahwa dari 41 negara yang disurvei untuk bidang IPA Indonesia berada pada peringkat 38, untuk Matematika dan kemampuan membaca menempati peringkat 39. Keempat, sebagai konsekuensi logis dari indikator-indikator diatas adalah penguasaan terhadap IPTEK dimana kita masih tertinggal dari negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. (www.hotlinkfiles.com)
Guru, akhirnya menjadi salah satu faktor menentukan dalam konteks meningkatkan mutu pendidikan dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas karena guru adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dan berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Mutu pendidikan yang baik dapat dicapai dengan guru yang profesional dengan segala kompetensi yang dimiliki.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen merupakan sebuah perjuangan sekaligus komitmen untuk meningakatkan kualitas guru yaitu kualifikasi akademik dan kompetensi profesi pendidik sebagai agen pembelajaran. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana (S1) atau D4. Sedangkan kompetensi profesi pendidik meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Dengan sertifikat profesi, yang diperoleh setelah melalui uji sertifikasi lewat penilaian portofolio (rekaman kinerja) guru, maka seorang guru berhak mendapat tunjangan profesi sebesar 1 bulan gaji pokok. Intinya, Undang-Undang Guru dan Dosen adalah upaya meningkatkan kualitas kompetensi guru seiring dengan peningkatan kesejahteraan mereka.
Menurut H. Isjoni (2006:20) guru profesional bukan lagi merupakan sosok yang berfungsi sebagau robot, tetapi merupakan dinamisator yang mengantar potensi-potensi peserta didik ke arah kreativitas. Tugas seorang guru profesional meliputi tiga bidang utama:

(1) dalam bidang profesi;
(2) dalam bidang kemanusiaan;
(3) dalam bidang kemasyarakatan.
Dalam bidang profesi, seorang guru profesional berfungsi untuk mengjar, mendidik, melatih, dan melaksanakan penelitian masalah-masalah pendidikan.
Dalam bidang kemanusiaan, guru profesional berfungsi sebagai pengganti orang tuanya dalam peningkatan kemampuan intelektual anak didik. Guru profesional menjadi fasilitator untuk membantu peserta didik mentransformasikan potensi yang dimiliki peserta didik menjadi berkemampuan serta berketeramplilan yang berkembang dan bermanfaat bagi kemanusiaan.
Dalam bidang kemasyarakatan profesi guru berfungsi untuk memenuhi amanat dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai dengan differensiasi tugas dari suatu masyarakat modern, sudah tentu tugas pokok dari guru ialah profesional dalam bidangnya tanpa melupakan tugas-tugas kemanusiaan dan kemasyarakatan lainnya.
Selanjutnya Isjoni (2006:21) mengatakan: “dalam rangka untuk melaksanakan tugas-tugasnya, guru profesional haruslah memiliki berbagai kompetensi. Kompetensi-kompetensi guru profesional antara lain meliputi kemampuan untuk mengembangkan pribadi peserta didik, khususnya kemampuan intelektual, serta membawa peserta didik menjadi anggota masyarakat Indonesia yang bersatu, dinamis, serta berdasarkan Pancasila.
Berkaitan dengan pembinaan profesional guru ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan:
1. Sistem Pembinaan Profesional (SPP)
Berpijak pada adanya kesadaran dan keinginan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia maka peranan pendidikan khususnya di Sekolah Dasar perlu diperkuat dan didukung dengan tersedianya tenaga kependidikan yang berkualitas pula, yaitu :
a) Pengawas yang berkemampuan profesional dalam melakukan pembinaan serta pengawasan sekolah.
b) Kepala sekolah yang berkemampuan professional dalam melakukan manajemen sekolah.
c) Guru yang berkemampuan professional dalam melaksanakan tugas belajar mengajar.
Sistem Pembinaan Profesional (SPP) adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas profesi serta mutu kerja praktisi pendidikan.
Tujuan SPP adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya tenaga kependidikan yang tersedia, sehingga dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan itu sendiri, dan pada giliranya kualitas proses belajar dan out put SD semakin bermutu.
Sumber:
http://intanghina.wordpress.com/2009/01/13/bimbingan-profesional-guru-dan-motivasi-mengajar-guru-terhadap-manajemen-pembelajaran/

MANAJEMEN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB MA’HAD ALI BIN ABI THALIB DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Tesis/Master Theses from digilib-uinsuka / 2008-06-18 12:30:07
Oleh : IDA SAYEKTI – NIM. 05223571, Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pembelajaran bahasa Arab di Ma’had Ali Bin Abi Thalib Berdasarkan pengamatan penulis proses pembelajarannya cukup memuaskan, terbukti dengan semakin lancarnya mahasiswa dalam berbicara dengan menggunakan bahasa Arab dan mampunya lulusan ma’had tersebut untuk mengajar bahasa Arab dan pendidikan agama Islam. Tidak hanya lulusannya mahasiswanya yang masih belajarpun sudah bisa mengajar bahasa Arab. Fokus penelitian pada, Bagaimanakah pesiapan lembaga pembelajaran bahasa Arab yang meliputi seleksi mahasiswa, rekrutmen pengajar, supervisi, pembekalan dan pelatihan pengajar, penggunaan sarana dan prasaran dalam kegiatan pembelajaran. Bagaimanakah manajemen pembelajaran bahasa Arab yang di lakukan pengajar yang bertempat yang meliputi: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar. Faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat pembelajaran bahasa Arab di ma’had Ali Bin Abi Thalib yang bertempat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dilakukan di Ma’had Ali Bin Abi Thalib, bertempat di kampus II Universitas muhammadiyah Yogyakarta, Jln. IKIP PGRI Ngestiharjo, Sonopakis, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu manajemen. Pengumpulan datanya menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Informannya pimpinan ma’had, wakil pimpinan ma’had bagian putri, ustaz|ah, mahasiswi dan bagian administrasi. Manajemennya lembaga mengacu kepada AMCF, ustaz|ahnya diseleksi dari AMCF, mahasiswinya dites oleh ustaz|ah yang ada dalam lembaga, tetapi yang menentukan kelasnya AMCF, untuk supervisi dari AMCF dengan mendatangkan penilik, sarana dan prasaran pembelajaran sudah lengkap. Silabus dari AMCF, ustazah persiapan pembelajarannya dengan merangkum materi, menulis kosa kata baru, untuk alat pembelajaran, alokasi waktu, ruang kelas hanya sebagai saja yang membuat. Ketika masuk kelas dengan mengucap salam lalu memberi kesempatan mahasiswi suruh bertanya atau mengingatkan kembali pelajaran yang di bahas kemarin dengan pertanya, ada yang langsung penjelasan. Dalam penjelasan kelas persiapan dan kelas satu menggunakan bahasa Indonesia dan untuk kelas dua sampai empat menggunakan bahasa Arab. Mahasiswi boleh bertanya kapanpun walaupun sedang dijelaskan asal sesuai dengan materi yang sedang di bahas. Setelah menjelaskan memberi waktu untuk bertanya atau memberi pertanyaan atau latihan dalam buku. Untuk rangkuman dibuat ketika sedang menjelaskan dan untuk kelas persiapan dan kelas satu dibuat bersama-sama ustaz|ah dengan mahasiswi. Penilaian 10% nilai harian, 30% nilai mid semester dan 60% nilai semester. Yang menetukan naik tidaknya AMCF. Manajemen pembelajaran yang dilakukan ustazah sangat berpengaruh terhadap kelancaran mahasiswi dalam ber bahasa Arab. Tetapi juga harus didukung dengan faktor yang lain, yaitu: mata pelajaran yang saling berhubungan, mahasiswi yang bersungguh-sungguh dan rajin, pengajar (ustaz|ah) yang bersungguh-sungguh dalam mengajar, sarana dan prasarana yang lengkap Faktor pendukung sarana dan prasarana lengkap, pengajar dari P.T. timur tengah, faktor penghambat dihapuskannya beasiswa.

REKONSTRUKSI PEMBELAJARAN UNTUK MENGATASI KESULITAN MAHASISWA DALAM MEMAHAMI MATERI MANAJEMEN PERUBAHAN
Achmad Supriyanto

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekonstruksi pembelajaran untuk mengatasi kesulitan mahasiswa dalam memahami materi Manajemen Perubahan. Subjek penelitian ini terdiri dari mahasiswa peserta kuliah Manajemen Perubahan pada semester ganjil tahun akademik 2005/2006 di Jurusan Administrasi Pendidikan FIP UM. Rancangannya menggunakan penelitian tindakan dengan teknik analisis komponensial dalam mengolah data. Kesimpulannya menunjukkan bahwa rekonstruksi pembelajaran dapat digunakan mengatasi kesulitan mahasiswa dalam memahami materi Manajemen Perubahan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa temuan bahwa (1) rekonstruksi pembelajaran yang dapat mengatasi kesulitan mahasiswa dalam memahami Materi Manajemen Perubahan adalah rekonstruksi yang didasarkan pada pemberian materi dengan perbandingan antara aspek teoritis dan teoritis sebesar 60% dan 40% secara proporsional; (2) implementasi hasil rekonstruksi pembelajaran dengan proporsi perbandingan dapat mengatasi kesulitan mahasiswa dalam memahami Materi Manajemen Perubahan; (3) pemahaman mahasiswa menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada posisi cukup memahami, sebagian kecil sangat memahami dan belum memahami; (4) sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa jenis tugas/evaluasi perkuliahan mampu meningkatkan pemahaman dengan baik, sebagian kecil cukup meningkatkan pemahaman dan sangat sedikit yang tidak mampu meningkatkan pemahaman materi Manajemen Perubahan; (5) pengaturan jam pembelajaran yang tepat ternyata dapat mengatasi kelelahan fisik maupun psikis mahasiswa, sehinga lebih siap belajar dan dapat meningkatkan pemahaman memahami materi Manajemen Perubahan.

ARSIP UNTUK MANAJEMEN PEMBELAJARAN IPA KLS VIII
September 4, 2008 • Disimpan dalam manajemen Pembelajaran IPA kls VIII, science club biology, selamat datang


Dalam waktu dekat science club biology akan segera di lounching. Tujuan diadakan club ini antara lain: mempersiapkan calon peserta hasil seleksi tingkat sekolah, untuk dilakukan pembinaan sejak awal, dengan pendekatan terfokus pada materi OSN 2008. Probabilitas materi adalah 50% materi sesuai kurikulum, 50% materi pengembangan pada jenjang sekolah SMA dan PT.
siswa bisa bayangkan…! ternyata …mampu diulangan harian saja masih belum cukup untuk modal/bekal OSP dan OSN tahun 2009. karena masih separo lagi materi yang harus dipersiapkan.
Proposal telah disetujui oleh kepala sekolah, jumlah kursi tersedian hanya dibatasi 10 siswa dan 2 siswa sebagai cadangan. dari 10 siswa nantinya setelah pembinaan dan menjelang OSK (olimpiade sains kabupaten) 2009, akan diseleksi secara terbuka melalui tes, untuk memilih 3 orang siswa sebagai duta sekolah dalam mengikuti even OSK 2009 . 7 orang sisanya tereliminasi akan dipilih satu lagi untuk mewakili even lomba Mapel tingkal kabupaten tahun 2009. sisanya 6 siswa dipersilahkan untuk mengikuti lomba pada even yang ada dan sesuai dengan bidang yang diminati.
perlu siswa ketahui pembinaan ini bersifat privat partikuler, artinya segala hal yang berhubungan dengan pelaksanaan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara pembina dan peserta binaan. Diupayakan ada simbiosis mutualisme yang berorientasi tercapainya target tahun 2009 siswa SMPN 1 Bangkalan masuk OSN bukan sekedar OSK (kabupaten) dan OSP (propinsi) saja. sehingga SMPN 1 Bangkalan tidak hanya menyandang gelar jago kandang!
Oleh karena itu gunakan kesempatan ini sebaik mungkin dalam rangka aktualisasi diri untuk meraih prestasi melalui science club Biology SMPN 1 Bangkalan
SELAMAT BERGABUNG! BERSAINGLAH SECARA SEHAT!

MANAJEMEN PEMBELAJARAN IPA KELAS VIII SMP NEGERI 1 BANGKALAN
Agustus 11, 2008 • Disimpan dalam manajemen Pembelajaran IPA kls VIII

1. Tata Tertib
Siswa wajib mengikuti tata tertib yang telah disampaikan guru pada pertemuan pertama. Pada kesempatan tersebut disepakati beberapa komitmen antara siswa dan guru, agar proses pembelajaran IPA berjalan lancar sesuai yang diharapkan oleh siswa sebagai peserta didik dan guru sebagai pengajar.
2. Sikap dan prilaku
Sikap dan prilaku siswa harus mengacu pada satu tujuan yaitu, intelektualitas dalam bertindak dan berfikir. agar tercipta kultur masyarakat belajar (intelek) dan suasana pembelajaran lebih berorientasi pada proses dari pada sekedar mencari nilai.
3. Penilaian
Prinsip dalam penilaian “siswa menciptakan sendiri nilai yang di inginkan sesuai dengan kemampuan dan kerja keras masing-masing, bukan guru yang memberikan nilai dengan begitu saja”. maksudnya; siswa terlibat dan dilibat dalam proses penilain mulai dari awal sampai akhir. penilaian dilakukan secara terbuka dan akuntabel. nilai siswa di menej secara terbuka dan diketahui oleh seluruh komunitas kelas. bukti penilaian terdeposit pada file masing-masing. siswa dan wali siswa dapat melakukan kajian soal dan jawaban kepada guru. semua proses dilakukan secara objektif.
Format penilai dan rumus penilai raport disampaikan di awal pertemuan agar siswa bisa membuat perencanaan sendiri dan menentukan langkah yang diambil dalam meraih nilai yang diinginkan.
beberapa komponen penilaian meliputi
a. nilai uji materi pada akhir bab –> ada 13 bab
b. nilai KI (kerja ilmiah) disesuaikan dengan alokasi waktu dan sarana penunjang yang memadai. prinsip efektif dan rasional
c. nilai Uji Kompetensi (UH) –> 10 kali Ulangan harian dengan masing masing KKM 70 (ideal)
d. nilai Portofolio –> direncanakan hanya 2 tagihan
e. nilai Ulangan Umum Bersama
f. Aspek afektif –> 10% dari probabilitas seluruh komponen.
Pembelajaran dilakukan secara TIM. dalam kurun waktu tertentu dilaporkan kepada wali kelas dan kepala sekolah. disesuaikan dengan kebutuhan.bagi siswa yang yang tidak tertib dan kurang hati-hati dalam belajar, akan mendapatkan nilai yang rendah dan wajib mengikuti remidi. remidi cukup dilakukan hanya sekali kesempatan. jika gagal maka nilai yang terbaik yang akan diambil, meskipun kurang dari target KKM terendah (tidak tuntas).

Iklan

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

 
%d blogger menyukai ini: